![]() |
| gambar kerajaan sambas |
Lokasi bekas pusat
pemerintahan terletak di tepi kota Sambas. Di daerah pertemuan sungai Sambas,
Sambas Kecil, dan Teberau, pada sebuah tempat yang oleh penduduk di sebut Muare
Ullakan (Desa Dalam Kaum) berdiri keraton Kesultanan Sambas. Pusat pemerintahan
Kesultanan Sambas terletak di daerah pertemuan sungai pada bidang tanah yang
berukuran sekitar 16.781 meter persegi.
Sungai Sambas sejak awal
sejarah sudah lama dihuni manusia. Mereka bertempat tinggal di tepian sungai
pada rumah-rumah rakit atau rumah kolong yang didirikan di atas tiang. Membujur
arah barat-timur. Pada bidang tanah ini terdapat beberapa buah bangunan, yaitu
dermaga tempat perahu/kapal sultan bersandar, dua buah gerbang, dua buah
paseban, kantor tempat sultan bekerja, bangunan inti keraton (balairung),
dapur, dan masjid sultan. Bangunan keraton menghadap ke arah barat ke arah
sungai Sambas, Ke arah utara dari dermaga terdapat Sungau Sambas Kecil, dan ke
arah selatan terdapat Sungai Teberau. Di sekeliling tanah keraton merupakan
daerah rawa-rawa dan mengelompok di beberapa tempat terdapat makam keluarga
sultan.
| Keraton Sambas Pada Masa Sultan Bima |
| Gerbang Masuk Segi Delapan |
| Tiang Bendera Istana sambas |
| Gerbang Kedua Istana Sambas |
Setelah melalui gerbang
kedua dan pagar halaman inti, sampailah pada bangunan keraton. Pada bagian atas
ambang pintu keraton terdapat tulisan "ALWATZIKHOEBILLAH" yang
berarti "Berpegang teguh dengan nama Allah". Di bagian atasnya tulisan
ini terdapat ukiran yang menggambarkan dua ekor burung laut yang bermakna
"Kekuatan Kerajaan Sambas pada angkatan laut", dan angka sembilan
yang berarti bangunan keraton ini dibangun oleh sultan yang kesembilan.
| Istana Alwatzikhoebillah |
Di bagian dalam bangunan
tempat Sultan dan pembantunya bekerja,tersimpan beberapa benda pusaka
kesultanan, di antaranya singgasanakesultanan, pedang pelantikan Sultan, gong,
tombak, payung kuning yang merupakan lambang kesultanan, dan meriam lele.
Meriam lele yang jumlahnya tujuh buah hingga sekarang masih dianggap barang
keramat dan sering diziarahi penduduk.
| Istana Sambas |
| Peninggalan Kerajaan Sambas |
Raden Dewi Kencana, Ratu Keraton Sambas, mengungkapkan, Keraton Sambas masih banyak memiliki benda Pusaka, diantaranya Tempat tidur Raja, Kaca hias, Seperangkat alat untuk makan Sirih, Pakaian kebesaran Sultan, Payung Ubur-Ubur, Tombak Canggah, Meriam Beranak, Pedang Sultan, Tempayan keramik dari Cina dan kaca Kristal dari Inggris dan Belanda. Benda yang masih dikeramatkan hingga sekarang yakni meriam beranak.
| Media Penyimpanan Meriam Beranak |
1. Raden Mas
2. Raden Putri
3. Raden Sambir
4. Raden Pajang
5. Ratu Kilat
6. Pangeran Pajajaran
7. Panglima Guntur.
Menurut Gusti Sofyan
Kailani (60 th) Penjaga Kamar Pusaka, saat ini Meriam Ratu Kilat sedang tidak
ada ditempat dan telah lama pergi dari istana.itu biasanya akan menandakan
kejadian alam luar biasa didunia. Namun menurutnya Meriam tersebut bisa saja
tiba tiba ada ditempat(kembali dengan sendirinya). Karena menurut beliau, meriam
itu bukan Raib, atau dicuri orang, melainkan pergi meninggalkan keraton untuk
mengatasi sesuatu hal atau peristiwa. Tapi bila sudah sampai waktunya ia akan
kembali dengan sendirinya.
Keraton yang berada
di Muara Ulakan ini (Sambas) juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Dimana
Bangunan Keraton yang menghadap sungai tersebut, mencirikan bahwa jalur
transportasi zaman dahulu melalui sungai dan adanya Lambang Kuda Laut bersayap
diatas atap keraton menandakan bidang yang menyokong perekonomian keraton saat
itu adalah Bahari.
Memasuki kawasan Keraton,
pengunjung akan ditemukan dengan bangunan segi delapan. dulunya itu merupakan
Pendopo. Tempat ini digunakan Sultan untuk beristirahat dari perjalanan jauh
dan bermusyawarah. Atap bangunan yang berbentuk Segi Delapan itu memiliki makna
delapan arah mata angin. Dibangunan ini ada delapan jendelanya menandakan arah
angin. tapi terkadang jendela-jendela tersebut memberikan tanda. Bila tujuh
jendela tertutup, dan satu jendela akan terbuka dengan sendirinya, bermakna ada
sesuatu yang perlu dikhawatirkan, begitu seterusnya, yang mana tanda tanda
tersebut terasa mustahil bagi sebagian orang. Disisi kanan halaman istana
terdapat sebuah mesjid yang juga bersamaan dibangun dengan keraton, mesjid ini
diberi nama Mesjid Jami’ (artinya Mesjid Agung).
| Beduk di Keraton Sambas |
Dibagian belakang keraton
terdapat tempat pemandian Puteri dan Permaisuri keraton. disamping bangunan
keraton ada bak penampungan air, dimana air yang diambil itu dipercayai
memiliki khasiat positif buat orang yang meminumnya. Disekitar keraton juga
terdapat Kampung Dalam Kaum yang artinya kampung keluarga keraton. tak jauh
dari keraton terdapat pemakaman raja raja dan keluarga keraton, diantaranya
makam Sultan Syafi’uddin II (yang menulis Buku “SILSILAH SAMBAS”), Makam
Permaisuri Ratu Anom Kesuma Ningrat, beserta keluarga dan keturunanya. dalam
kawasan ini terdapat tiga puluh enam pemakaman keluarga keraton..
Sumber
-Buku “Kabupaten Sambas
Sejarah Kesultanan Dan Pemerintahan Daerah”,Dari Pemda Sambas,Dinas Pariwisata
Kabupaten Sambas Th 2001.
-Harian “Tribun
Pontianak”,edisi 246 Th 1,hal 09.
-Situs Situs Internet
Yang Tak Dapat Saya Sebutkan Satu Persatu.